28th May 2014 Cat: Psikologi with No Comments »

Penerimaan siswa baru (PSB) merupakan kegiatan tahunan rutin tiap sekolah baik sekolah swasta maupun sekolah negeri. Kegiatan ini biasanya mulai dilaksanakan di akhir semester genap. Awal dari pelaksanaan kegiatan PSB dimulai dengan dibentuknya kepanitiaan sampai persiapan dokumen yang dibutuhkan.

Untuk sekolah-sekolah favorit kegiatan ini bahkan sudah dimulai sejak awal semester genap sehingga di akhir-akhir semester genap semua rangkaian kegiatan penerimaan siswa baru sudah kelar dan daftar nama siswa yang dinyatakan diterima juga sudah ada.

Kegiatan Penerimaan Siswa Baru (PSB) atau sekarang lebih populer dengan istilah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) lebih terasa geliatnya di sekolah-sekolah swasta. Wajar saja hal ini terjadi karena pada umumnya sekolah swasta dihidupi oleh siswa yang bersekolah di sekolah tsb. Di sekolah-sekolah swasta kegiatan rutin sekolah dibiayai oleh uang yang dibayarkan orang tua siswa mulai dari kegiatan belajar mengajar sampai gaji guru. Jika jumlah calon siswa yang mendaftarkan diri ke sekolah yang bersangkutan tidak memenuhi target yang telah ditentukan maka sedikit besarnya akan berpengaruh pada kelancaran kegiatan belajar mengajar di sekolah yang bersangkutan.

Kegiatan sekolah swasta sepenuhnya dibiayai oleh siswa melalui uang bayaran sekolah yang ditentukan pihak sekolah. Besarnya uang bayaran sekolah masing-masing sekolah tentunya bervariasi tergantung pada kebijakan pengelola. Ada yang “murah” ada juga yang “mahal”. Makin mahal bayaran sekolah yang ditentukan pihak pengelola sekolah biasanya makin bagus kualitas sekolah yang bersangkutan.

Untuk menjaring pendaftar sebanyak-banyaknya sekolah-sekolah swasta berlomba menawarkan keunggulan masing-masing, mulai dari kurikuler sampai variasi kegiatan ekstrakurikuler. Masing-masing sekolah berusaha memberikan yang terbaik untuk memikat calon siswa supaya mau menempuh pendidikan di sekolahnya.

Bagaimana dengan sekolah negeri? Dulu sekolah negeri relative pasif dan tidak terlalu agresif dalam melakukan rekrutmen siswa baru karena ada ada atau tidak ada siswa sekolah tidak terlalu berpengaruh pada kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Ini disebabkan karena semua pembiayaan sekolah negeri ditanggung pemerintah melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dengan dana BOS semua siswa yang sekolah di sekolah negeri tidak dikenakan pungutan biaya pendidikan karena semuanya sudah dipenuhi oleh pemerintah. Siswa yang bersekolah di sekolah negeri tinggal maunya saja berangkat ke sekolah tanpa memikirkan biaya pendidikan. Siswa hanya memikirkan kebutuhan pribadinya saja seperti pakaian sekolah, jajan atau buku-buku tambahan karena buku utama sudah disediakan di sekolah.

Namun, ada satu fenomena yang menarik yang saat ini mengemuka di sekolah negeri. sekolah-sekolah negeri yang notabene biaya operasional nya sudah ditanggung pemerintah, yang sewajarnya tidak perlu khawatir dengan jumlah murid, saat ini justru ikut berlomba-lomba meraih murid sebanyak-banyaknya. Kalau sekolah swasta hal ini wajar dan bisa dimaklumi karena biaya operasionalnya betul-betul  mengandalkan dari iuran siswa. Tapi kalau sekolah negeri, yang juga berlomba-lomba mencari murid sebanyak-banyaknya sedangkan biaya oprasional ditanggung pemerintah, ada atapun tidak ada siswa sekolah negeri akan tetap beroperasi, sedikit ataupun banyak siswa sekolah negeri tetap akan memberikan layanan pendidikan.

Mengapa sekolah yang biaya operasional nya sudah ditanggung pemerintah seperti takut kehilangan murid? Mengapa sekolah negeri berlomba meraih murid sebanyak-banyaknya padahal kelancaran pelaksanaan layanan pendidikan di sekolah tidak tergantung pada jumlah murid yang ada karena siswa yang bersekolah di sekolah negeri tidak dipungut biaya.

Apakah dengan banyaknya murid yang bersekolah di sekolah negeri memberikan meuntungan tersendiri bagi sekolah tersebut? Kalau sekolah swasta, ya. Sekolah negeri? Entahlah. Karena mengacu pada konsep, banyak sedikit siswa tidak berpengaruh pada pelaksanaan pendidikan.


Related Post :