4th June 2014 Cat: Psikologi with No Comments »

Dengan maraknya kasus- kasus pedopilia di berbagai daerah yang berhasil terungkap dan diekspose media, sebagai orang tua tentunya kita merasa khawatir dan was-was bahwa kejadian – kejadian serupa akan menimpa anak – anak kita. Karena bukan tidak mungkin kejadian yang terjadi di Jakarta International School (JIS), di sukabumi dengan pelaku Emon atau di tempat-tempat lain yang mungkin jumlahnya bisa lebih banyak dari yang terungkap media juga bisa terjadi di dekat kita, di lingkungan kita atau bahkan anak kita sendiri yang jadi korban. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kita tidak tahu dan tidak menyadari bahwa bahaya senantiasa mengintai anak-anak kita. Kita seringkali menganggap tidak ada masalah dengan anak – anak kita sampai betul-betul masalah itu muncul ke permukaan. Kita juga sering kali merasa senang ketika ada orang lain yang begitu baik dan memperlakukan anak kita dengan istimewa. Padahal bisa jadi itu adalah sumber masalah. Kenapa? Karena hampir semua penderita pedopilia adalah orang-orang yang hangat, baik dan perhatian kepada anak. Wajar, karena memang target nya adalah anak-anak. Untuk memuluskan aksi bejatnya memang perlu pendekatan kepada anak dan keluarganya supaya timbul kepercayaan dan kedekatan. Setelah itu mereka akan melancarkan misi utamanya, melampiaskan nafsu seksualnya yang yang menyimpang.

Bagaimana agar anak-anak kita terhindar dari aksi bejat para pemangsa anak-anak ini? Kenali ciri-ciri mereka. Jika kita memiliki pengetahuan tentang ciri – ciri penderita pedopilia setidaknya kita bisa mengantisipasi kejadian buruk yang akan menimpa buah hati kita tersayang. Pada artikel sebelumnya diuraikan tentang penyakit pedopilia, pada tulisan ini kita akan coba uraikan beberapa ciri penderita pedopilia.

Seperti yang sudah disebutkan di awal bahwa pelaku kebanyak berperilaku simpatik, menarik dan menyenangkan. terutama bagi anak-anak. Pada kebanyakan kasus, anak-anak begitu tergantung dan dekat dengan pelaku pedopilia sehingga pelaku sangat mudah melakukan aksinya. Sikap simpatik itu ditunjukkan melalui cara bicara, pintar membujuk dan menghibur dan menarik perhatian anak-anak. Pelaku juga biasanya menujukkan perilaku senang membantu. Sigap membantu orang lain terutama anak – anak jika mereka sedang dalam masalah. Bahkan pelaku terkesan memaksa memberikan bantuan ketika kita tidak mempedulikan nya.

Kebanyakan pelaku adalah orang yang bisa masuk ke dunia anak-anak dan menjadi teman bagi anak-anak. Pelaku masuk ke dunia anak-anak melalui permainan. Dia akan terlibat dalam permainan anak-anak, bahkan memiliki koleksi mainan yang biasa digunakan anak-anak seperti kartu, kelereng, boneka, rumah-rumahan, monopoli dsb. Pelaku mahir dan lihai memanipulasi mainan sehingga anak-anak akan sangat terhibur dan mudah terbawa dengan permianan yang sedang dia jalankan.

Ciri berikutnya adalah pelaku biasanya kolektor materi- materi porno terutama materi dengan konten anak-anak. Materi porno tsb sengaja dikoleksi dengan tujuan untuk membangkitkan fantasi seksualnya. Pada beberapa kasus materi porno itu juga diperlihatkan kepada anak-anak korban perilaku menyimpangnya atau kepada anak-anak calon korban kebuasan nafsu liarnya. Karena lihai dalam bertutur kata dan membujuk pelaku akan menggiring anak-anak sampai betul-betul masuk perangkapnya. Dan setelah itu anda juga bisa menebaknya, dia mulai menjalankan aksinya.

Menurut hasil penelitian ternyata didapatkan fakta  yang cukup mencengangkan. Sebanyak 70% pelaku pedofilia ternyata pernah menjadi korban pedopilia saat masa kanak-kanaknya. Jika kita tidak mengantisipasi sejak awal, bisa jadi anak kita korban pedopilia selanjutnya, bahkan bisa jadi akan menjadi pelaku ketika dia sudah besar.

semoga kejadian-kejadian buruk tersebut tidak menimpa buah hati kita tersayang. amin.


Related Post :